Sunday, January 15, 2017

sundayTalk : Buli di Zaman Sekarang Masih Eksis

Advertisement

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hallow galawers people semua , kini Alhamdulillah kita bisa berjumpa lagi di sundayTalk. Masih bersama partner saya Bu Dita yang rajin nanyain tema, tapi Mr. G nya malah belum buka2 suara dan terakhir nanya terus saya malah balik nanya lagi.. heuheu, Maaf Bu Dita.

 Akhirnya Bu Dita ngasih tema untuk minggu ini yaitu tentang Buli membuli, haduhhh ternyata masih eksis ya di zaman sekarang buli membuli. Heuheu. STOP pokonya Buli Perbulian, Oksss?


Sebelum berlanjut ke pembahasan buli membuli, baca dulu ya resolusi blog Galaw Informasi di tahun 2017 ini, nih mari baca :


Balik kebahasan sundayTalk pekan ke 8 dengan judul “Buli di Zaman Sekarang Masih Eksis”, belum lama ini ada berita yang meresahkan sampe sampe korban meninggal dunia. Innalillahi, semoga amal ibahnya diterima disisinya, dan yg melakukan kekerasan cepat di beri hidayah Oleh Allah S.W.T. Aamiin.



Kabar duka dari kekerasan terjadi lagi yaitu dari Alm. Amirullah Adityas Putra (taruna) yang mendapat tindakan kekerasan di lantai dua gedung Dormitory ring 4 kamar M205 jalan Marunda Makmur, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (10/1/2017) malam. “di kutif today.line.me”

Pelajar Taruna Tingkat satu STIP yang baru berusia 18 tahun ini harus meregang nyawa karena dianiaya oleh lima orang seniornya di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Kementrian Perhubungan (Kemenhub). “di kutif today.line.me”

Entah apa motifnya yang jelas itu tidak manusiawi apalagi ini sampai meninggal dunia, Masya Allah. Tindak kejahatan seperti ini memang harus sudah diredam lagi. Kedaran menjadi inti dari semuanya, selain dari peraturan yang ada karena peraturan tidak selalu di maknai tiap manusia namun kesadaran pasti bisa menanggulanginya.

Perasaan kasus kekerasan sudah banyak tiap tonton di Tv, Buli membuli ini dapat menimpa siapa saja tergantung siapa yang ada di dekat kita dan sejauh mana kita dapat mengendalikan kejahatan, jadi selain berhati-hati, kita juga perlu apa yang namanya waspada.

Sekarang yang menjadi pertanyaan yaitu: Mengapa Buli membuli atau kekerasan itu bisa terjadi? Bagaimana cara mengatasi kekerasan (buli membuli itu) ?
Oke kita Bahas satu-satu : mariii.


A.     Mengapa Buli membuli atau kekerasan itu bisa terjadi?

Quiroz et al,. (Sugiharto, 2009: 20) mengemukakan sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku bullying, yaitu:

a.      Hubungan keluarga

Oliver et al.,(Sanders, 2004: 123) mengemukakan enam karakteristik faktor latar belakang dari keluarga yang memengaruhi perilaku bullying pada individu, yaitu sebagai berikut.

·    Lingkungan emosional yang beku dan kaku dengan tidak adanya saling memperhatikan dan memberikan kasih sayang yang hangat;
·     Pola asuh yang permissive dengan pola asuh serba membolehkan, sedikit sekali memberikan aturan, membatasi untuk berperilaku, struktur keluarga yang kecil;
·    Pengasingan keluarga dari masyarakat, kurangnya kepedulian terhadap hidup bermasyarakat, serta kurangnya keterlibatan keluarga dalam aktivitas bermasyarakat;
·         Konflik yang terjadi antara orangtua, dan ketidakharmonisan dalam keluarga;
·      Penggunaan disiplin, orangtua gagal untuk menghukum atau malah memperkuat perilaku agresi dan gagal untuk memberikan penghargaan;
·      Pola asuh orang tua yang otoriter dengan menggunakan kontrol dan hukuman sebagai bentuk disiplin yang tinggi, orang tua mencoba untuk membuat rumah tangga dengan aturan yang standar dan kaku.

Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh McCord and McCord (Berkowitz, 1993) menunjukkan bahwa penolakan, pelecehan (abusive), kesalahan mendidik (mistreatment), dan sikap keras orangtua terhadap anak cenderung menyebabkan anak bertindak agresif termasuk bullying (Retno Astuti, 2008:38).

b.      Teman Sebaya

Pada usia remaja, anak lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah. Pada masanya remaja memiliki keinginan untuk tidak lagi terlalu bergantung pada keluarganya dan mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok sebayanya, oleh karena itu salah satu faktor yang sangat besar dari perilaku bullying pada remaja disebabkan oleh teman sebaya yang memberikan pengaruh negatif dengan cara memberikan ide baik secara aktif maupun pasif bahwa bullying tidak akan berdampak apa-apa dan merupakan suatu hal yang wajar dilakukan.
     
Pencarian identitas diri remaja dapat melalui penggabungan diri dalam kelompok teman sebaya atau kelompok yang diidolakannya. Bagi remaja, penerimaan kelompok penting karena mereka bisa berbagi rasa dan pengalaman dengan teman sebaya dan kelompoknya. Untuk dapat diterima dan merasa aman sepanjang saat-saat menjelang remaja dan sepanjang masa remaja mereka, anak- anak tidak hanya bergabung dengan kelompok-kelompok, mereka juga membentuk kelompok yang disebut klik. Klik memiliki kesamaan minat, nilai, kecakapan, dan selera. Hal ini memang baik namun ada pengecualian budaya sekolah yang menyuburkan dan menaikan sejumlah kelompok diatas kelompok lainnya, hal itu menyuburkan diskriminasi dan penindasan atau perilaku bullying (Coloroso, 2007: 65).

c.       Pengaruh Media

Program televisi yang tidak mendidik akan meninggalkan jejak pada benak pemirsanya. Akan lebih berbahaya lagi jika tayangan yang mengandung unsur kekerasan ditonton anak-anak pra sekolah perilaku agresi yang dilakukan anak usia remaja sangat berhubungan dengan kebiasaannya dalam menonton tayangan di televisi (Khairunnisa, 2008).

Hasil penelitian Saripah(2006: 3) mengatakan bahwa pengaru media dalam perilaku bullying sangat menentukan, survey yang dilakukan kompas memperlihatkan bahwa 56, 9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya mereka meniru gerakan (64%) dan kata-kata sebanyak(43%). Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa televisi memiliki peranan penting dalam pembentukan cara berfikir dan berperilaku. Hal ini tidak hanya terbatas pada media televisi saja, namun juga dalam semua bentuk media yang lain. Remaja yang terbiasa menonton kekerasan di media cenderung akan berperilaku agresif dan menggunakan agresi untuk menyelesaikan masalah. 

Alasan bullying disekolah saat ini semakin meluas salah satunya adalah karena sebagian besar korban enggan menceritakan pengalaman mereka kepada pihak yang mempunyai kekuatan untuk mengubah cara berfikir mereka dan menghentikan siklus bullying, yaitu pihak sekolah dan orangtua. Korban merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka. Akibatnya korban bisa semakin menyerap ”falsafah” bullying yang didapat dari seniornya dalam penelitian yang dilakukan oleh Riauskina dkk(Sugiharto, 2009: 24) korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena.

·         Tradisi;
·         balas dendam karena dia dulu pernah diperlakukan sama;
·         ingin menunjukkan kekuasaan;
·         marah karena korban tidak berperilaku sesuai yang diharapkan;
·         mendapat kepuasan;
·         irihati.

Adapun korban mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena.

·         penampilan mencolok;
·         berperilaku dengan tidak sesuai;
·         perilaku dianggap tidak sopan;
·         tradisi.

Bullying dilembaga pendidikan dapat terjadi karena adanya superioritas dalam diri siswa hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Coloroso (2007: 57) bullying adalah arogansi yang terwujud dalam tindakan. Remaja yang melakukan bullying memiliki hawa superioritas yang sering dijadikan topeng untuk menutupi ketidakmampuan dirinya. Pelaku bullying berdalih bahwa superioritas dianggap memperbolehkan remaja melukai seseorang yang mereka anggap lebih lemah padahal semuanya adalah dalih untuk merendahkan seseorang sehinngga mereka merasa lebih unggul.

B.      Bagaimana Cara Mengatasi Kekerasan (Buli membuli itu)?

a.      Blaming the Victim

Masalah bullying adalah masalah kita semua. Pemerintah, polisi, politisi, masyarakat, guru, orang tua, dan siswa, mestinya memiliki kepedulian bersama dalam menyelesaikan masalah bullying ini. Sayangnya, tidak sedikit orang yang menganggap masalah bullying sebagai masalah pelajar itu sendiri. Karenanya, mereka selalu menganggap pelajar sebagai biang masalah. Ini merupakan sikap dan tindakan yang dikenal dengan blaming the victim (menyalahkan korban).
     
      Blaming the victim, sebenarnya mirip dengan cerita petani yang menemukan buah anggur yang ranum di atas pohon. Tapi, pohonnya sangat tinggi. Sementara, si petani tidak bisa memanjat pohon itu. Lalu si petani mencari bambu untuk memetiknya. Tapi, dia tidak menemukan bambu panjang yang bisa mencapai buah anggur. Tak kehabisan akal, si petani melempari anggur dengan batu. Tapi tidak ada yang kena. Akhirnya, si petani meninggalkannya, sambil bergumam, ”Hmmm, anggur itu pasti rasanya masam.”

Blaming the victim, makanya perlu dihindari. Karena bukannya menyelesaikan masalah, melainkan menghindar dari masalah. Blaming the victim, merupakan wujud dari ketidakmampuan (atau ketidakmauan?) seseorang dalam menyelesaikan masalah.

        b. Dari Masalah ke Akar Masalah

Selain blaming the victim, problem lain yang menghambat penyelesaian bullying adalah terpaku kepada masalah, tanpa menyadari penyebab yang menjadi akar masalah. Padahal, mengetahui dan menyelesaikan akar suatu masalah, merupakan salah satu teknik problem solving yang jitu. Penyelesaian suatu kasus tanpa menyelesaikan akar masalahnya akan sia-sia belaka. Kalaupun berhasil, sifatnya hanya sementara. Setelah itu, tidak lama kemudian akan muncul lagi.

Khalifah Umar bin Khattab, pernah mengajarkan teknik problem solving dengan berorientasi kepada penyelesaian akar masalah. Konon suatu hari, seseorang dilaporkan kepada Sang Khalifah karena telah mencuri. Si pelapor meminta kepada khalifah untuk menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya kepada si pencuri. Khalifah Umar bin Khattab tahu bahwa potong tangan merupakan sanksi bagi si pencuri. Tetapi, beliau ternyata tidak menghukumnya, setelah tahu bahwa kelaparan dan paceklik menjadi penyebab orang itu mencuri. Akhirnya si pencuri dibebaskan. Selanjutnya, sebagai khalifah, dia berusaha untuk membuat program yang mensejahterakan rakyatnya. Hasilnya, pencurian dan kriminalitas tidak lagi terdengar di kalangan rakyatnya. Karena, kelaparan dan paceklik, yang menjadi akar masalah, sudah diselesaikannya.
  
Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab, perlu ditiru oleh siapapun yang akan menyelesaikan masalah kekerasan di kalangan pelajar. Umar bin Khattab tidak langsung menghukum si pencuri. Melalui otaknya yang jenius serta hatinya yang tenang, beliau menangkap sinyal ketidakberesan di tengah-tengah masyarakatnya.
     
Demikian juga dalam menghadapi kasus bullying. Tidak cukup hanya menghukum para pelajar yang melakukannya. Sebab, banyak faktor yang dapat dihubungkan sebagai akar masalah yang menjadi penyebab terjadinya bullying. Misalnya, sistem pendidikan yang tidak membebaskan, suasana belajar yang tidak kondusif, langkanya keteladanan guru dan pelajar senior, pengaruh negatif media massa, keluarga yang broken home, serta masih banyak faktor penyebab lainnya.

Tidak heran, jika banyak orang berpendapat bahwa menyelesaikan masalah bullying tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena akar masalahnya tidak tunggal; banyak dan kompleks. Akan tetapi, walaupun rumit, kita perlu mencari jalan keluarnya. Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surat Alam Nasyrah [94]: 5-6 menegaskan: ”Sesungguhnya di dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Dan sesungguhnya di dalam kesulitan pasti ada kemudahan”.

        c. Komunikasi, Muara Solusi

Menyelesaikan kasus bullying sesungguhnya bisa dimulai dengan cara membangun komunikasi yang terbuka antara guru, orang tua dan murid. Selama ini, komunikasi di antara mereka seringkali tidak berjalan dengan baik dan efektif. Orang tua, misalnya jarang memberi perhatian terhadap anaknya, baik di rumah atau di sekolah. Mereka, mungkin terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga tidak sempat (atau tidak mau menyempatkan diri) berkomunikasi dengan anak dan pihak sekolah. Sementara itu, di sekolah, guru cenderung ingin didengarkan murid. Komunikasi yang dibangun hanya satu arah. Tidak banyak guru yang memposisikan dirinya sebagai fasilitator atau mitra berbagi dengan murid. Sedangkan murid-murid lebih suka mengambil jalan sendiri, dan tidak tahu kepada siapa dia harus berkomunikasi.

Oleh karena itu, komunikasi sangat penting dalam membangun suasana yang sejuk dan damai. Komunikasi menjadi semacam muara bagi solusi atas kasus-kasus kekerasan di kalangan pelajar. Kesediaan semua pihak, terutama orang tua, guru dan murid, untuk menjalin komunikasi yang positif, terbuka, dan jujur, akan membuka jalan menuju solusi yang efektif dalam menyelesaikan kasus bullying. Pertanyaannya sekarang, seperti bunyi iklan sebuah vendor komunikasi, ”Mau?”.

        d. Cara paling ideal untuk mencegah terjadinya bullying :

·     Mengajarkan kemampuan asertif, yaitu kemampuan untuk menyampaikan pendapat atau opini pada orang lain dengan cara yang tepat. Hal ini termasuk kemampuan untuk mengatakan TIDAK atas tekanan-tekanan yang didapatkan dari teman/pelaku bullying.
·      Sekolah meningkatkan kesadaran akan adanya perilaku bullying (tidak semua anak paham apakah sebenarnya bullying itu) dan bahwa sekolah memiliki dan menjalankan kebijakan anti bullying. Murid harus bisa percaya bahwa jika ia menjadi korban, ia akan mendapatkan pertolongan. Sebaliknya, jika ia menjadi pelaku, sekolah juga akan bekerjasama dengan orangtua agar bisa bersama-sama membantu mengatasi permasalahannya.
·     Memutus lingkaran konflik dan mendukung sikap bekerjasama antar anggota komunitas sekolah, tidak hanya interaksi antar murid dalam level yang sama tapi juga dari level yang berbeda.

Sekian Bahasan sundayTalk pekan ini, semoga tindak kejahatan semakin berkurang bahkan tidak lagi terjadi. Aamiin.

Mohon maaf bila ada kesalahan kata.
Terimakasih.

No comments:

Post a Comment